Rabu, 16 Juni 2010

Matangkan Praktek Dalam KomBis

“Saya harap mahasiswa tidak hanya mengerti saja, namun juga dapat mempraktekkan apa yang didapat melalui PKL (Praktek Kuliah Lapangan, Red.) ini”

       ITULAH sepenggal pesan Dina Septiani M.Comm., salah satu dosen Komunikasi Bisnis (KomBis), bagi mahasiswa yang mengikuti PKL-nya.  KomBis adalah pembelajaran tentang cara berkomunikasi dalam mencapai tujuan-tujuan di dunia bisnis. KomBis merupakan kelanjutan dari Komunikasi Pemasaran (KomSar). Jika PKL KomSar diikuti mahasiswa semester 4, PKL KomBis justru diikuti mahasiswa semester akhir.
        Dalam tujuannya, PKL KomSar hanya menuntut mahasiswa untuk mengerti dan melakukan observasi tentang kegiatan pemasaran. Namun dalam PKL KomBis, mahasiswa dituntut untuk bisa mempraktekkan apa saja yang diamati selama masa PKL. “Harapan saya mahasiswa dapat mempraktekkan bagaimana cara pertukaran informasi dan ide yang efektif dalam dunia bisnis baik secara individu maupun kelompok” tambahnya. (glo/zha)

Gossip di Seputaran Komunikasi UNAIR

VCD Animasi Jadi Saksi

CAN You Feel the Love Tonight? Lagu besutan Elton John ini juga jadi salah satu soundtrack cinta sepasang mahasiswa Komunikasi lintas generasi ini. Dua-duanya sudah mulai “merapat” sejak beberapa bulan lalu. Kabarnya, sang jejaka pernah malu-malu kucing datang ke rental film yang dimiliki sang perempuan. Saking groginya, si cowok akhirnya memutuskan menyewa film animasi yang sebenarnya kurang diminatinya cuma demi ngapel. Hihi. Mereka juga punya ikatan batin. Buktinya, sering mereka tidak sengaja kembaran baju di kampus. Wah, sepertinya, pasangan berinisial AMK dan TE ini bakal punya jalan yang mulus. Amieeen. (ask)


Cokelat Stroberi di Komunikasi

MASIH ingat cerita film Cokelat Stroberi? Ya, intensitas pertemuan tinggi antara dua sahabat cowok membuat mereka jatuh cinta. Ups, gosipnya, fenomena ini juga muncul di Komunikasi. Nah, lho! ARP dan SR adalah dua jejaka Komunikasi se-angkatan yang tinggal di satu kamar kos. Mereka sangat sering dipergoki bepergian bersama ke mana-mana. Di kelas pun, mereka juga sering satu kelompok. Wah, ada apa ya? Selidik punya selidik, jarak tempat tidur mereka adalah jawabannya. Saat malam merasuk, tempat tidur mereka hanya dipisahkan oleh satu jengkal ubin saja. Wah wah wah. Mungkin, mantan-mantan mereka (yang cewek tulen) harus menginterograsi mereka, nih. He he..(ask)

Jalur Non Mainstream yang Berkualitas Film Karya Garin Nugroho Layak Tonton


     KETIDAKMAMPUAN seorang lelaki terhadap seksualitas mungkin banyak ditemui dalam kehidupan. Namun apa jadinya jika lelaki tersebut jusru menikmati ketidakmampuannya akan seksual? Suatu hal yang sangat kontradiktif. Begitulah sedikit sinopsis dari film Cinta dalam Sepotong Roti besutan sutradara terkenal Garin Nugroho.

    Peeping Comm, bulan mei ini mengadakan acara nonton film yang berbeda dengan bulan sebelumnya. “Nggak mainstream intinya, trus juga sebagai special event memperingati HUTKOM 22”, ujar Intan Fitrianisa sebagai ketua Peeping Comm. Dengan mengusung tema Tribute To Garin, diharapkan bahwa penonton tahu terdapat film berkualitas namun tidak mendapat tempat di teater tanah air ini.Film-film karya Garin Nugroho ini bisa dinikmati di MITE setiap hari rabu pukul 10.00 selama bulan Mei. Diskusi tentang film ini juga bisa diikuti setelah acara nonton film. Surat Untuk Bidadari, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, juga Cinta Dalam Sepotong Roti merupakan film-film yang diputar.

     Untuk membuktikkan bahwa film non mainstream tidak berarti buruk, bisa dengan meluangkan waktu yang ada untuk nonton filmnya. Surat untuk Bidadari menceritakan  tentang seorang anak hiperaktif yang selalu mengirim surat kepada malaikat. Malaikat ini diyakini tinggal di desa yang Ia diami.

     Sinopsis tentang film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja adalah tentang bagaimana perjuangan seorang lelaki Papua yang ingin mencium gadis yang ditemuinya di pelabuhan. Setting yang dipakaipun juga menarik, yaitu dengan kericuhan akibat adanya banyak penculikan. Sangat berbeda bukan dengan film mainstream yang ada?

    Film terakhir yang diputar adalah Cinta dalam Sepotong Roti. Dari film ini nantinya akan banyak pelajaran yang bisa diambil. Terkait dengan mata kuliah Psikologi Komunikasi pastinya film ini highly recommended karena diceritakan dengan gamblang bagaimana masa lalu seseorang bisa merubah kehidupan  masa depannya. (fia)

Hasil Riset Jadi Buku Terbitan Thailand

       KEPALA Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga, Dra Rachmah Ida, M.A., Ph.D, baru saja kembali dari Thailand. Di sana, Rachmah Ida menerima tawaran Junior Researcher Fellowship (JRF) untuk melakukan riset tentang masalah keagamaan dengan fokus pada para perempuan muslim di Asia Tenggara
      Selama penelitiannya di Chiangmai, Thailand, Rachmah Ida menemukan problematika terkait masalah perempuan muslim di Asia Tenggara. Pelbagai topik menarik seperti terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam, hingga pelarangan dakwah Islam di sebagian kawasan di negara Filipina dibahas di forum ini. “Semuanya kami bahas tuntas di sana,” ujar lulusan S2 Edith Cowan University majoring media studies tersebut.
      Nantinya, Rachmah Ida akan mengabadikan jerih payahnya dalam sebuah buku. Buku itu berjudul Imaging Muslim Women In Indonesian Ramadhan Soap Opera dan ditulisnya sendiri. “Buku itu diterbitkan di Thailand juga. Penerbitnya adalah Silkworm Books,” imbuhnya.
Sesuai judulnya, buku yang itu akan mengupas habis potret perempuan muslim dalam sinteron-sinetron Ramadhan di Indonesia yang ditayangkan di televisi Indonesia. (mua/ask)

Bubble Gum Luncurkan Album Perdana


Agar Engkau Bahagia.

KALIMAT tersebut bukanlah sederet kata dari seorang laki-laki yang pasrah terhadap kenyataan, melainkan salah satu judul lagu dari Bubble Gum, band indie asal Departemen Komunikasi Unair. "Kita pake nama Bubble Gum karena kita memang suka makan permen karet. Bubble Gum juga bisa bikin kita enjoy dan lengket satu sama lain," ujar Rusman, mahasiswa Komunikasi ‘07
               Terbentuk pada 11 November 2008, band yang digawangi Reza (vokal), Tiar (keyboard), Happy (drum), Prama (bass), Candra (gitar), dan Rusman (gitar) ini menyebut aliran musik mereka dengan istilah Bubble Pop. Sebab, jenis musik mereka lebih fleksibel dan tidak mau dikotak-kotakkan.
Segudang prestasi telah diukir Bubble Gum. Band yang baru saja menyelesaikan tour keliling pulau Sumatera ini pernah menjadi band opening Nidji, Armada, Nineball, Geisha, dan Angkasa, juara 1 chart indie di DJ FM, HARD ROCK FM, dan EBS FM hingga menduduki peringkat ke-3 band terDASHYAT RCTI di Surabaya. Bahkan, di bulan Juni mendatang, Bubble Gum juga akan meluncurkan album perdana mereka. Oke, kita tunggu ya. (dee/int)

Belajar Berkata “Yes” dari YES MAN


FILM drama komedi romantis ini berkisah tentang kehidupan Carl Allen (Jim Carey) yang monoton setelah bercerai dari sang istri, Stephanie. Perceraian tersebut membuat Carl menjadi pribadi yang tertutup. Hal ini mengacaukan hidupnya. Dia sering menghindar dengan berbagai macam alasan ketika diajak teman-temannya. Carl selalu berkata “Tidak”.
Suatu hari, teman lama Carl yang bernama Nick memberikan brosur tentang talkshow motivasi “Yes”. Talkshow ini diadakan oleh seorang pembicara ternama, Terrance. Terrance memberi contoh “Yes” dengan memecahkan kaca kantor Carl setelah ditantang memecahkan kaca kantor Carl. Setelah talkshow, Carl tahu kata “Yes” ternyata dapat merubah dunia, membuat kehidupan lebih berwarna. Hal ini menjadi titik awal semua konflik yang dia rasakan. Kehidupan Carl pun berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ada perasaan janggal yang dia rasakan di kehidupan yang baru ini, terutama ketika dia bertemu dengan Alinson (Zooey Deschanel). Tetapi, keberuntungan dan kebahagiaan Carl tidak berlangsung lama. Ada kejadian-kejadian yang membuatnya tersadar kalau berkata “Yes” tidak selalu berakibat positif bagi dirinya.
            Dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, kehidupan Carl yang berubah itu dapat dikaji dari teori persuasi. Tentunya Pembaca masih ingat dengan model Aristoles yang menggambarkan komunikasi sebagai alat persuasi. Cara-cara persuasi yang disampaikan mengandung 3 inti, yaitu ethos, pathos, dan logos. Hal tersebut dapat dilihat saat Terrace memberikan motivasi-motivasi pada talkshow. Selain itu, kesamaan frame of reference dan field of experince antara Carl dan Terrace membuat proses komunikasi mereka menjadi lebih efektif.
            Kesalahan persepsi yang dilakukan oleh Carl dalam menginterpretasi pesan yang disampaikan oleh Terrace ternyata membawa dampak positif bagi dirinya. Ini tentu menjadi suatu contoh yang menarik. Sebab, dalam Ilmu Komunikasi, kita tahu bahwa kesalahan mempersepsi pesan cenderung memunculkan hal-hal negatif. Namun melalui film ini, kita diingatkan bahwa kesalahan persepsi dapat berimplikasi pada hal-hal yang lain. (gim/zha)

Teaching How to Be a Boy Through Bobo Magazine

       MENURUT Foucault, identitas bukan berasal dari karakteristik genetis bawaan sejak lahir, melainkan dibentuk lewat bahasa (language). Bahasa inilah yang memunculkan discursive formation yang berpengaruh pada pembentukan identitas.
       Discursive formation sendiri merupakan suatu kondisi di mana terdapat beragam wacana seiring dengan pembentukan identitas subjek. Discursive formation ini sifatnya labil. Sebab, perubahan pengetahuan pada masyarakat (landscape of knowledge) menyebabkan discursive formation juga berubah. Sehingga, setiap discursive formation yang muncul memiliki ciri khas tersendiri dan bersifat tidak kontinyu.
       Identitas sosok Bobo, menurut pandangan Foucault, dipengaruhi wacana-wacana yang berkembang pada masyarakat modern sebagai aplikasi discursive formation-nya. Pada masyarakat modern, hubungan antara orang tua dan anak tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “kaku”. Anak tidak selalu diposisikan “di bawah” orang tua, tetapi mulai muncul kesetaraan di antara mereka. Konsep-konsep kesetaraan tersebut nyata terlihat pada keluarga di masyarakat Barat.
       Mayoritas tipe komunikasi keluarga Barat menganggap bahwa anak memiliki hak untuk berpendapat, bertanya, hingga menasehati orang tua. Hal itu menunjukkan bahwa anak di keluarga Barat itu diposisikan setara dengan orang tuanya, dalam hal apapun termasuk saling memberikan masukan bagi masing-masing anggota keluarga. Sekarang, masyarakat Timur sudah mulai mengadopsi paham-paham tersebut. Mereka juga menganggap bahwa anak berperan penting dalam tumbuh kembang suatu keluarga tersebut (Okvina, 2009).
       Konsep kesetaraan dalam komunikasi keluarga antara orang tua dan anak tampak pada dialog-dialog yang muncul antara Bobo dengan Bapak pada rubrik Cerita Bergambar (CerGam) berjudul Sepeda Gembira.
Dialog 1: Bapak mengeluarkan sepeda lipat dan mengelapnya. Hari ini, Bapak mau ikut sepeda gembira. “Sepedanya jangan sampai tertinggal, ya, Pak!” pesan Bobo (sambil memasukkan tangan kiri ke saku celana dan mengarahkan jari telunjuk pada Bapak)
Pada dialog tersebut, terlihat bahwa Bobo digambarkan sebagai anak yang mampu menasehati orang tuanya. Selain melalui ucapan, gesture yang menunjukkan kesan ‘menasehati’ tersebut tampak pada tangan yang dimasukkan ke saku kiri dan mengarahkan jari telunjuk pada ayahnya.
Dialog 2: “Aku tidak melupakan sepedaku, kan, Bo?” pamer Bapak. “Lalu, di mana Cimut?” tanya Bobo (berdiri sambil mengarahkan jari telunjuk pada Bapak). Astaga, Bapak malah melupakan Cimut!.
Tidak jauh berbeda dengan dialog pertama, pada dialog ini pun Bobo ditampilkan ‘setara’ dengan Bapak. Hal ini ditunjukkan melalui cara Bobo yang bertanya pada sang ayah dengan lagi-lagi mengarahkan jari telunjuk pada ayahnya.

Bobosiana - Selidiki Dulu
       Adakah di antara teman-teman yang ingin menjadi seorang detektif seperti Paman Dick Selidik? Hmmm, keren, ya! Pamanku itu pandai sekali memecahkan misteri. Dia harus melakukan berbagai penyelidikan lebih dulu, untuk menjawab sebuah misteri. Penyelidikan ini butuh waktu dan tenaga, karena para detektif melakukannya dengan sangat hati-hati dan teliti. Paman Dick Selidik selalu melakukan check and recheck.
       Eh, kita pun bisa melatih diri menjadi detektif, lo! Misalnya, saat kita mendapatkan informasi yang kurang masuk akal. Kita bisa menyelidikinya dengan cara mencari tahu dari siapa informasi itu berasal. Kalau sudah ketemu, tanyakan langsung apakah informasi itu benar. Kalau orang itu bilang,”katanya”....dan tidak jelas “nya” nya siapa, hehe..lebih baik kita tidak usah percaya pada informasi seperti itu.
       Kata-kata yang ditulis dalam rubrik Bobosiana ini oleh penulis dikesankan bahwa pesan-pesan tersebut merupakan kata-kata yang berasal dari Bobo. Hal ini terlihat dari kata “teman-teman” di mana sebagian besar pembaca majalah Bobo adalah anak-anak. Selain itu, pada rubrik Bobosiana juga terdapat kata “pamanku” yang merujuk pada Paman Dick Selidik sebagai paman Bobo. Di sini, Bobo digambarkan seolah-olah berperan layaknya orang dewasa. Dia memiliki banyak pengetahuan. Dia juga memberikan saran-saran kepada pembaca Majalah Bobo dan terkesan ‘menggurui’ para pembacanya dengan nasehat-nasehat yang tertulis di dalam rubrik tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa identitas Bobo digambarkan sebagai sosok yang dewasa dan sangat berhati-hati. Dia bahkan sering memberikan saran ataupun nasehat kepada teman-temannya.
          Identitas Bobo juga ditampilkan sebagai sosok yang maskulin. Sebab, simbol-simbol yang melekat pada dirinya disepakati bersama oleh masyarakat sebagai simbol maskulinitas. Memakai topi pet terbalik, kaos merah tua, celana panjang berwarna biru, serta sepatu kets biru. Menariknya, Bobo bukanlah satu-satunya sosok laki-laki dalam keluarganya. Ada Bapak, Paman Gembul, Tut Tut, Dung Dung, Kutu Buku, dan Simpul. Namun, semuanya digambarkan memiliki tubuh berwarna kuning. Hanya Bobo yang bertubuh biru. Pada masyarakat moderen, warna biru identik dengan sifat maskulin seorang laki-laki (Steve Connor, 2007). Biasanya, karakteristik maskulinitas diidentikkan dengan kekerasan, gagah, jantan, dan kuat sehingga bertanggung jawab dalam memimpin, berpolitik dan berurusan dengan ranah publik lainnya. Pada majalah Bobo, maskulinitas Bobo ini tampak aktivitas yang dilakukannya, yaitu bermain bola, berprofesi sebagai detektif, wartawan, dan fotografer. Aktivitas Bobo di ranah domestik, sementara itu, bisa dihitung dengan jari seperti belajar kelompok di rumah bersama teman-temannya. Namun, Bobo pun masih digambarkan sebagai sosok yang paling dominan dibandingkan teman-temannya. Hal ini digambarkan dengan ilustrasi yang menunjukkan seluruh pandangan peserta diskusi yang mengarah kepadanya.(int)